Rumah Kedua, Keamanan dan Kenyamanannya Terjaga



Berbeda dengan GSF tahun sebelumnya, GSF tahun ini terdapat isu terbaru salah satunya adalah sekolah ramah anak (SRA). Hal ini merupakan tantangan baru dalam mengikuti GSF. Sekolah Ramah Anak merupakan suatu program yang mewujudkan kondisi aman, bersih, sehat, peduli, dan berbudaya lingkungan hidup, yang mampu menjamin pemenuhan hak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya, selama anak berada di sekolah serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, dan pengawasan. Sekolah Ramah Anak mengondisikan sebuah sekolah menjadi nyaman bagi anak serta memastikan hak anak dan melindunginya, karena sekolah menjadi rumah kedua bagi anak, setelah rumahnya sendiri.
            Penerapan Sekolah Ramah Anak (SRA) dilaksanakan merujuk 6 (enam) komponen penting diantaranya adalah : (1) Adanya komitmen tertulis yang dapat dianggap kebijakan tentang SRA; (2) Pelaksanaan Proses Pembelajaran yang ramah anak; (3) Pendidik dan Tenaga Kependidikan Terlatih Hak-Hak Anak; (4) Sarana dan Prasarana yang ramah anak; (5) Partisipasi anak; (6) Partisipasi Orang Tua, Lembaga Masyarakat, Dunia Usaha, Pemangku Kepentingan Lainnya, dan Alumni.
            Kondisi yang dapat mengganggu kenyamanan dan keamanan siswa di sekolah antara lain, lantai di kelas 3C dan 3D rusak. Penyebab dari lantai tersebut antara lain karena semen perekat lantai tidak berfungsi dengan baik sehingga memerlukan penggantian lantai yang baru. Dalam hal ini, sekolah bekerjasama dengan komite untuk memperbaiki lantai yang rusak. Nilai-nilai PPK yang diterapkan dalam kegiatan ini antara lain yaitu gotong royong dan integritas.
Selain itu, kantin sekolah masih menjual makanan dan minuman yang mengandung bahan pengawet dan zat adiktif lainnya, dikarenakan kurangnya sosialisasi antara pihak sekolah dengan penjual kantin tentang makanan dan minuman sehat yang harus dijual. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah mengundang dari tim UKS untuk mengadakan sosialisasi tentang makanan dan minuman sehat kepada penjual di kantin. Selain mengadakan sosialisasi juga membuat slogan tentang makanan dan minuman sehat serta melakukan pengecekan makanan dan minuman sehat secara berkala oleh tim pengelola kesehatan kantin.
Masalah lain yang sering muncul adalah sering terjadi aliran listrik yang yang tidak stabil, sehingga mengganggu kenyamanan siswa yang sedang belajar. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sekolah perlu pengadaan genset. Hasil yang diharapkan dengan adanya solusi isu Sekolah Ramah Anak ini antara lain terwujudnya sekolah yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik. 

Tim Isu Sekolah Ramah Anak:
Novi Eka Sulistiawati, S.Pd.
Nurul Fakhihatul Jannah Attamimi, S.Pd.
Agus Rubianto
Carissa Widya Rianti
Rafiffah Dahabiyah Ahmad

You may like these posts:

No comments:

Post a Comment